
Dijakarta sudah mulai musim penghujan bisa diduga kalau hujan pastilah banjir, macet ada dimana mana, segera kuparkirkan gerobak tuaku. Tampak cukup banyak mobil yang di tempat parkir. Melihat kondisi seperti ini, kemungkinan besar sekitar jam 12:00-14:00 (SAL/sex after lunch) dan 16:00-18:00 (nunggu sepinya jalan pulang) merupakan jam kencan, sedangkan untuk tanggalnya berkisar 27-10 (tanggal gajian??). Segera aku ke ruang resepsionis.
“Selamat malam Pak,” sapa Mbak Yxx, dengan senyumnya yang khas.
“Malam juga,” jawabku.
“Dengan siapa Pak? Ini yang baru namanya Nxx,” katanya dengan membuka album yang ada di meja dan membalikkan halaman terakhir. Karena setiap aku ke sini selalu aku berikan tip, jadi tanpa tanya aku sudah diberikan semacam “special offer”.
Kuperhatikan wajahnya. Memang cukup cantik, tapi melihat jam segini, biasanya yang cantik sudah cukup lelah kerja. Saking banyaknya pesanan, paling tidak sudah dua atau tiga tamu. Kalau satu tamu minta nambah rata-rata sekali, artinya minimal satu tamu dua kali main.
Kan tinggal hitung, sudah berapa operation hour-nya? (padahal kalau sama pasangannya, untuk nambah aja alasan capek, tapi kalau sama WP bisa lebih dari satu kali.) Kalau tamu lain kemungkinan akan disodorkan WP yang belum dapat tamu dari tadi siang, tapi karena aku mendapatkan “special offer”, jadi punya “right” untuk memilih, walaupun WP yang kupilih sudah dapat tamu banyak.
“Mbak, ada nggak yang belum mendapatkan tamu seharian?” tanyaku, untuk mencoba ‘menu’ lainnya, yakni memilih WP yang Masih bertenaga dan penuh harap untuk mendapatkan tamu dari tadi siang.
“Ada. Mbak Axx dan Mbak Rxx,” jawabnya.
“Ciri-cirinya gimana?” tanyaku lagi.
“Kalau Mbak Axx memang bisa pijat beneran dan sedikit berumur. Kalau Mbak Axx orangnya kecil, Masih muda, Sunda, baik orangnya,” jawabnya lagi.
“Ya iya lah Mbak. Kalau nggak baik ya ke Cipinang nemenin temannya Ricardo Gelael,” jawabku.
Dianya senyum aja menanggapi candaku.
“Ya sudah, saya pilih Mbak Rxx. Saya langsung ke kamar yah,” jawabku. Dia nggak menanyakan kamar VIP atau regular, sebab dia sudah tahu “kebiasaanku”.
Dengan diantar room boy saya langsung menuju kamar. Waduh, my favourite room sudah terisi. Yah, terpaksa dapat sisa yang ada di bagian pojok belakang. Dengan Masih mengenakan pakaian lengkap saya duduk di kursi plastik biru yang ada. Room boy menutup tirai kamar.
“Selamat malam Mak,” sapa Mbak Rxx.
“Malam Mbak,” jawabku. Dia meletakkan peralatan standard-nya (sprei baru, handuk, sabun, kimono) ke tempat tidur, kemudian mengambil sepatuku untuk diletakkan di bawah tirai penutup kamar (sebagai tanda bahwa kamar ini ada isinya/agar jangan salah kamar, karena sepatu merupakan id-room, kalau nanti ke kamar mandi). Karena meletakkannya sambil nungging, jadi rok span ketatnya ketarik.
Nampak celana dalam warna hijau muda. Kemudian meletakkan pantatnya di atas kasur. Beberapa saat setelah duduk tampak CD warna hijau muda bordiran tepat di bagian garis “penalty” banyak lubang seperti kain kasa, dan..
“Ke sini sama temannya, Pak?” tanyanya, sebab aku Masuk ke kamar bersamaan dengan orang lain sehingga saat memanggil WP di kamar kerja terdengar dua nama WP. Ini merupakan “her_std_qst”.
“Nggak. Sendirian,” jawabku, sambil memandangnya.
“Sudah pernah ke sini?” tanyanya lagi, sambil membuang muka, melihat ubin, yang bentuk dan jumlahnya selalu sama.
“Belum,” jawabku. Sekali-kali boleh dong bohong. Sambil tetap memandangnya, ternyata ada juga toh Sunda yang nggak putih, dalam hatiku (bukan hitam, tolong dibedakan). Tampak wajahnya Masih meninggalkan “sisa-sisa” kecantikannya.
“Gimana Pak, mau dipijat apa..?” tanyanya tidak diteruskan, tapi malah tersenyum. Mengingat di sebelah kamar terdengar suara mendesis dan suara seperti tepukan tangan (lebih tepatnya beradunya empat pangkal paha.., kan satu orang punya dua).
“Aku mau seperti yang di sebelah,” jawabku.
“Ya siapa takut,” jawabnya segera, dan turun dari tempat tidur menghampiriku untuk mencoba merangsangku. Wah, nggak sabaran nih!!
“Tolong kamu duduk aja dulu di tempat tidur.”
Sambil kuperhatikan wajahnya, kali ini dia memandang ke atas, yang jelas tidak menghitung jumlah kotak yang ada di plafon. Karena urat leher ketarik, nampak bahwa dia tidak menggunakan bra, sebab terlihat putingnya.
Mungkin ini strateginya untuk memancing hasrat tanpa menyentuhku. Kalau pemula mungkin dari tadi nih WP sudah ditabrak. Tapi dia bukan tipe togepasar; TOket GEde PAntat beSAR; aku sedikit bingung dengan tubuh wanita; kalau pantatnya besar kadang perutnya ikut-ikutan besar alias jibrut.
“Kamu udah berkeluarga?” tanyaku, keluar juga deh ‘my_std_qst’
“Sudah, tapi cerai,” tatapannya ke arahku, tapi tidak lama, ke bawah lagi.
“Punya anak,” tanyaku lagi
“Sudah satu,” jawabnya, dengan tatapan tetap ke bawah.
“Umur berapa?” tanyaku.
“Empat tahun” jawabnya.
“Mmurmu berapa?” tanyaku.
“Dua puluh lima,” jawabnya, sambil memandangku lagi dengan sorot mata yang tenang tanpa ‘kedip’, nampak wajahnya lebih tua dari usianya, atau mungkin ingin memudakan usia, tapi kalau melihat sorot matanya dan ketenangannya tak nampak bahwa dia membohongiku.
“Aslinya mana?” tanyaku.
“Sukabumi,” jawabnya.
“Gimana ramai tamunya, kan tanggal muda,” tanyaku lagi.
“Yah ramai sih Mas, tapi buat yang dapat tamu,” jawabnya.
“Kalau kamu sendiri gimana,” tanyaku
“Saya baru dapat, ya Mas ini,” jawabnya, wah untuk membuktikan kita perlu cek fisik, tapi nanti!!, wah panggilan sudah berubah dari ‘pak’ ke ‘Mas’, membuatku jadi lebih muda aja, atau membuat suasana menjadi lebih akrab.
“Coba kamu ke sini,” panggilku, dia menghampiriku dan berusaha mendekatkan buah dada ke wajahku sambil tangannya menggapai saklar lampu, mungkin kurang PD.
“Tolong, jangan di matikan lampunya,” ucapku, dia menarik kembali tangannya setelah dia mundur beberapa centi, aku perhatikan di kantong blazer, sebelah kiri ada body lotion dan dua karet pelampung, habis bentuknya di gulung dan berbentuk seperti pelampung, sutra dengan warna millenium, sebelah kanan kotak kecil kosmetik dan selembar uang $20.
“Kenapa karetnya koq bawa dua?” tanyaku.
Iya kalau nanti tamunya minta nambah kan nggak bolak balik ke belakang,” jawabnya.
“Kalau itu yang di botol buat apa,” tanyaku, seperti pemula.
“Buat tamu yang nggak pengen main, Cuma dikocokin aja,” jawabnya.
“Kamu bawa uang, apa nggak takut kalau kamu lagi ke belakang, terus diambil sama tamunya yang iseng.”
“Ya pasrah aja, Mas”
“Buat apa sih bawa uang, buat kembalian,” candaku.
“Bisa aja Mas, nggak buat pegangannya aja,” jawabnya, seperti menyembunyikan sesuatu.
“Ada yang pernah bilang sama saya kalau belum dapat tamu, maka diletakkan uang sebagai pancingan agar mendapatkan tamu, bener nggak sih?” tanyaku.
“Nah, tuh udah tahu nanya!” jawabnya sambil tersenyum malu, wah kalau gitu nggak perlu cek fisik, ini sudah terbukti, kadang dengan guyon, kejujuran akan tampak.
“Mbak pernah ke pasar tradisional nggak?” tanyaku, buat ngeledek dia.
“Pernah lah, Masak ibu rumah tangga nggak pernah,” jawabnya, bener juga walau profesi WP, tetap dia sebagai ibu rumah tangga sekaligus komandan rumah tangga(kan janda).
“Pernah nggak lihat pedagang yang sedang jualan kalau belum laku, terus kalau dagangannya laku pertama kali, apa yang dia kerjakan?” tanyaku lagi.
“Apa yah, yah senenglah,” jawabnya.
“Ya itu kan perasaannya, tapi yang dikerjakan apa,” cecarku.
“Nggak tahu,” jawabnya singkat.
“Dia akan memukulkan uang yang didapat ke semua barang dagangannya,” jawabku
“Terus,” tanyanya bingung.
“Nah kalau kamu apa yang kamu lakukan, apa seperti pedagang tadi, memukulkan uang ke sini, ke sini, dan ke sini,” tanyaku sambil menunjuk vagina, payudara, dan mulutnya.
Tahu kalau kujebak, dia tersenyum lebar dengan menampakkan gigi indahnya dan tampak lesung pipitnya.
“Mas ini humoris,” celetuknya.
“Habisan kamu meletakkan uang di saku sebagai pancingan seperti pedagang aja,” ledekku.
“Habis kata teman-teman gitu, yah apa salahnya aku ikutin aja,” jawabnya.
“Tapi nggak apa-apa sih Mbak, saya pernah lihat pramuniaga yang jualan parfum dan baju di sarinah blok M juga begitu, tahu kalau aku perhatikan, si Mbak pramuniaga cuma senyum, dan bilang – penglaris Pak.”
“Mas, aku mau kencing dulu yah?” ijinnya.
“Boleh, tapi saya ikut yah?” tanyaku.
“Boleh, ayo” jawabnya.
Sambil membawa handuk dan sabun, kita keluar kamar. Saat menuju ke kamar mandi, tampak ada beberapa WP dan tamu, mungkin akan Masuk atau keluar, ada beberapa WP yang menyapaku (wah terbongkar deh bohongku tadi).
Setelah Masuk ke kamar mandi dan menutup tirai plastik..
“Katanya belum pernah, koq Mbak Mxx, Mbak Ixx dan Mbak Exx, kenal si Mas” ucapnya dengan tenang dan pelan, serta melorotkan CD-nya, bagus juga dia negor nggak di depan tamu atau WP, biarpun WP Masih punya etika.
Untuk menutupi suara desis melengking air kencing yang keluar (seperti turbocharger-nya ferrari/mc larren) dia menyiram shower ke arah vaginanya. Yang membuat saya bertanya dalam hati, mengapa posisi kencing dan melorotkan CD-nya koq tidak berhadapan atau membelakangiku? Malu atau ada yang ditutupi?
Setelah selesai kencing, CD-nya tidak dipakai tetapi dijepit di ketiaknya? (wah kalau gitu aku harus menghentikan kebiasaanku mencium ketiak, kalau ternyata sering dibuat njepit CD!!)
“Mas, aku kan malu kencing koq di lihatin,” katanya.
“Yah sudah selesai, baru complain!” jawabku.
“Habis kebelet, Mas nggak kencing,” ucapnya.
“Iya deh sekalian diberisihin,” jawabku, sambil melepas CP+CD dan kugantungkan di tembok, setelah itu aku pun kencing, dia ngelihatin punyaku, yah karena lagi kencing yah lagi mengecil (padahal sudah lihat vaginanya)
Setelah selesai kencing, dia menyiram dengan air shower sambil mengatur ke dua kran agar mendapatkan air hangat, setelah itu diberi sabun rudal dan sekitarnya tampak rudalku mengalami perubahan volume akibat sentuhannya, busa telah menutupi rudal beserta bulu lebatnya, kemudian diambil shower untuk menyirami rudalku dan..
“Aduh..” teriakku pelan.
“Maaf Mas..” jawabnya sambil segera mengarahkan pancuran air shower ke tembok dan memutar kran air panas.
“Mbak kalau niatnya membersihkan kuman jangan merontokkan buluku dong, emang punyaku seperti ayam potong, mau dibubutin bulunya!” tegurku.
“Iya deh, air showenya kan panas sendiri,” jawabnya.
“Tapi dicoba dulu dong di tangan jangan langsung tembak ke perangkat lunakku,” jawabku nggak mau kalah.
“Iya deh, yuk ke kamar,” rayunya.
Nah bingung deh lupa bawa kimono, masak pakai celana lagi, yah sudah aku pakai handuk plus baju, dan celana dia yang bawa, sementara CD-nya tetap di ketiak?
Setelah Masuk kamar, aku segera melepas baju dan tidur, koq dia belum datang, padahal dia kan di belakangku tadi, nggak lama dia datang dan melepas kaosnya, tampak payudara tanpa bra sekitar 34 tanpa bra (betulkan my preview), kemudian melepas roknya, oh iya lupa kan belum ada kesepakatan, sebelum lebih jauh lebih baik kita membuat LOI dulu sambil “bobo” berdua.
“Kalau seperti di sebelah berapa tarifnya?” tanyaku.
“Biasanya $150 ada juga yang ngasih $200,” keluar deh harga penawaran tanpa discount dan ppn+pbm+pph.
“Kalau pakai mulut berapa?”
“$100” jawabnya singkat.
“Kalau pakai cream,” tanyaku lagi.
“$50, Mas wartawan yah, nanya mulu kapan mulainya,” jawabnya.
“Nggak gitu dari pada nanti kamu protes, kalau gitu $150 itu dua kali dong, kan karetnya ada dua,” ledekku.
“Enak aja, yah enggak lah, kalau nambah yah jadi $200,” jawabnya.
“Kalau gitu aku tambahnya aja deh, kan Cuma $50 selisihnya,” ledekku lagi.
“Dasar, maunya yang murah,” jawabnya.
“Ya kan pembeli cari yang enak dan murah, itu lumrah Mbak..” jawabku.
“Emangya saya apaan,” jawabnya ketus, wah bisa emosi nih dia, harus segera dinetralisir.
“Sorry, saya bercanda, ya sudah saya ambil yang $150 nggak main tapi nambah..”
“Koq begitu,” jawabnya, sambil bibirnya agak monyong, aku tersenyum.
“Kenapa ketawa,” tanyanya.
“Nggak kamu seperti Leysus,” jawabku.
“Sial” setelah LOI disepakati mulailah aku tidur miring, dan terdengar lagu India yang lagi populer, wah jarang lho PPT pakai lagu India, jangan-jangan special order dari pengunjung.
“Mbak tahu nggak judul lagu ini?” tanyaku.
“Kuch kuch hota hai” jawabnya.
“Salah, yang benar kucek kucek kutange (k3)” jawabku sambil ngucek payudaranya, sekilas kebayang wajah penyanyinya 1D dan 1hraff, kalau ngebayangin 1D kan bibirnya ada kumis tipisnya tuh, tapi nggak menjamin kalau showroom-nya berkumis lantas bengkelnya lebat, kemungkinannya yang besar adalah bayangin bentuk/diameter mulut/bibirnya nah kira-kira, tahu kan yang aku maksud.
“Mas ini humoris, kalem, bisanyanya suka main ‘keras’ yah?”
“Nggak juga, jangan lihat penampilan, dong”
Setelah bosan k3,
“Mas hisap dong, aku cepat terangsang kalau dihisap,” perintahnya untuk menghisap payudaranya.
“Nggak ah,” jawabku.
“Kenapa, jelek yah?” tanyanya, wah gimana cara jawabnya agar dia nggak tersinggung.
“Nggak aku masih kecilnya udah bosen, selama tiga tahun, pagi-siang sore-malam, jadi yang lain aja,” jawabku asal, buat yang sering hisap “susu”, mungkin kecilnya minum susu formula, makanya ingin cari tahu gimana sih rasanya hisap susu ASI.
Kemudian aku turun, kulihat bulu bawahnya seperti dicukur, disisakan bagian atas garis penalty dan panjang serta kasar, bentuknya seperti rambut atasnya david tua atau don king.
“Kenapa, koq dicukur?” tanyaku.
“Habis lebat banget, kadang kalau lagi main suka ikut masuk, khan jadi agak sakit”jawabnya,
Tampak agak hitam di sekitar bagian luar, sepertinya tinggi freq ML-nya, dari bentuk lipsnya tampak kalau hari ini belum kemasukan rudal (artinya benar dia tidak bohong dong) aku mencoba menguakkan kedua pahanya untuk melihat bentuk vaginanya lebih dalam, ternyata benar dia sudah pernah melahirkan, ada bekas jahitan halus antara vagina dan anus, dan tampak di dalam lubangnya banyak benjolan daging kecil-kecil, kucoba memasukkan jariku, ternyata masih kering, berarti dia belum ON.
“Eh eh” erangnya.
“Jangan akting, aku senang yang alami..” tegurku, dia diam, dan mulai me-massage buah dadanya sendiri (sepertinya dia tipe DIAN; DIapain Aja eNak), sambil lidahnya melet keluar masuk, aku coba me-Massage clitnya, dia mulai goyang perlahan, dan makin lama makin cepat, tetapi “wet-sensor”-ku mengatakan masih “low”, aku coba meraba pantat bagian belakang, terasa ada permukaan yang tidak rata (semacam kerak; pantes tadi kencingnya nggak berani memunggungiku, takut tampak kekurangannya)
Makin lama “wet-sensor” mulai ke posisi “med” tapi vag-temp koq over-heat, wah nggak bener nih mesin, apa radiatornya bocor?, apa oli nggak naik?, wah sebaiknya kuhentikan (kalau nggak yakin atau nggak sreg, mendingan jangan terusin),
Sebab antara suhu dan lendir nggak sesuai jangan-jangan ada stoned-angelina, wah aku mau scan, nggak bawa MC Afee, terpaksa ctrl+alt+del.
“Mbak aku udah nggak tahan nih, di oral aja, mau nggak,” terpaksa pakai jalan pintas, padahal voltage rudalku belum siap luncur, tapi dari pada ‘contaminated” ‘mendingan dari pada’.
Dia mencoba menghisap, waow, hisapannya sampai kempot, kuangkat rambutnya agar aku dapat melihat kerjanya, matanya memandang ke atas (ke arahku) sambil terus menghisap dan lidahnya bermain di dalam mulutnya, karena bantal kutekuk menjadi dua agar kepalaku lebih tinggi, sehingga tanganku mulai melakukan kuch kuch hota hai lagi.
“Mas kalau mau keluar bilang yah!” katanya, maksudnya jangan sampai dikeluarin di mulut.
“Emang kenapa sih. Khan banyak proteinnya kata Dokter,” kataku.
“Iya tapi kalau sampai ketelan, nanti Mas nggak bisa ngelupain aku lho..” katanya, bisa aja dia menghindar, pantes banyak suami selingkuh (bahasa halusnya nyeleweng, penghalusan orba) soalnya si istri nggak mau nelan sperma.
“Ya sudah kalau mau keluar nanti kuberi tahu,” jawabku.
Lama-kelamaan dia capek juga, gimana nggak capek, nungging, ngisap sampai kempot, terus kepala naik turun, dan yang terpenting, dia tahan nafas (asal jangan lupa nggak nafas aja).
“Konsentrasi dong Mas,” keluhnya, wah aku jadi ingat taman lawang aja, terpaksa aku konsentrasi, kasihan juga dia, keningnya sudah mulai berkeringat.
Dan tak lama terdengar suara paha beradu di sebelah kamar disertai desahan, yang membuatku terheran-heran adalah kecepatannya, “pak-pak-pak”, tempo-nya tidak sampai satu detik, hebat juga nih laki-laki, dan lenguhan si wanita yang akan mencapai O, kalau nggak salah tadi sudah keluar, berarti ini ronde keduanya, tapi dengan kecepatan seperti itu, cukup tangguh juga latexnya. Cukup lama juga irama “pak-pak-pak”, membuatku lebih terangsang, dan..
“Pak, dilepas aja karetnya,” pinta si WP (akhirnya aku tahu kalau dia si Mbak Mxx, karena lenguhannya yang khas, telingaku sensitif juga yah bisa mengetahui WP hanya dengan lenguhannya, harusnya aku kerja di kapal selam, biar bisa mengetahui jenis kapal lainnya).
Nggak berapa lama, terdengar suara lenguhan hilang dan suara ‘pak’ juga hilang, dan aku pun tersadar kalau aku juga mau keluar.
“Mbak aku mau keluar,” ujarku, dia segera melepaskan dari mulutnya dan mengocoknya.
“Udah Mbak biar aku saja, Mbak tidur terlentang aja,” jawabku, dia mengikuti apa yang aku suruh, aku buka lebar-lebar pahanya, dan tampak vaginanya membentuk huruf “O” dan merah seperti lampu lalu-lintas.
“Mas Masukin dong, aku pingin banget nih,” katanya
Aku seolah-olah ingin memasukkan rudalku, sambil terus kustimulasi, pas sudah dekat ke lubangnya (belum masuk), kutembakkan cairanku tepat masuk ke dalam vaginanya, karena dia melakukan gerakan kejut di dalam vaginanya nggak lama keluarlah cairanku.
Saat dia akan bangun, “Mbak jangan bangun dulu!!” kataku, biar leleran cairanku menetes habis. Nggak lama dia membersihkan dengan sprei dan segera memakai rok dan kaos terus ke kamar mandi, aku pun segera mengenakan kimono dan mengikutinya dari belakang, setelah membersihkan kita kembali ke kamar.
“Katanya mau nambah,” tanya si Mbak, melihat aku menggunakan baju dan memakai CD+CP, aku segera memakainya karena nggak kuat dinginnya.
“Lho siapa takut, kataku..” jawabku, sambil membuka reitslenting celanaku, dan mengeluarkan rudal kecilku, sementara dia duduk di kasur dengan rok mininya tanpa CD, karena duduk sehingga roknya ketarik maka tampaklah rambutnya David Tua/Don King, pemandangan yang cukup indah nampaknya, terdengar lagi suara erangan dari kamar lain, wah terangsang lagi aku, dia segera menghisap rudalku semakin kuat mungkin 3 psi, akhirnya tumbang juga, dia yang hisap tetangga yang mengerang (coba banyangin sensasinya), sebelum keluar segera kudorong dia untuk terlentang di kasur dan kubuka dengan cepat ke dua pahanya dan kusiram cairanu ke dalam vaginanya yang sudah membentuk huruf “O” besar.
“Yah, si Mas, udah dibersihin, dikotorin lagi,” protesnya.
“Ya sudah, tinggal cuci lagi” rayuku.
“Sebentar ya Mas, aku kamar mandi lagi,” ijinnya.
Kumasukkan rudalku yang mengkerut, tanpa kucuci (jorok yah, kan ada ludahnya WP, dan sedikit cairanku), kulihat di meja kecil ada rokok jarum super (pantes ngisapnya pinter/master sucker, kalau master anal, yah Mbak Sxx, khan tiap orang punya spesialisasi; kalau wanita-perokok belum tentu WP (wanita-penghisap), tapi rata-rata semua WP adalah perokok yang mahir). Gila biasanya WP rokok putih, segera kumasukkan $150 ke dalam rokoknya, dan..
“Lho, koq nggak dicuci dulu?” tanyanya.
“Udah buat kenang-kenangan, koq kamu rokoknya gituan sih, biasanya wanitakan rokok putih,” kataku.
“Mau tahu, kenapa?” tanyanya.
“He eh!” sahutku.
“Yang Penting Rasanya Bung” ledeknya, dengan senyum manisnya.
Oh pantes, dia latihan dari rokok yang berat (aku langsung geleng-geleng), bukannya apa-apa, aku bukan perokok tapi kalau suruh ngisap clit/lidah sih nggak perlu jadi perokok!
“Mbak makasih yah,” segera aku keluar kamar.
“Mas, tips-nya belum,” rayunya sambil meletakkan telapak tangan di bagian belakang kepalaku.
“Tuh didalam rokokmu,” jawabku sambil menghindari ciuman (kamu boleh sama WP gini, tapi kalau sama pasangan jangan sekalai-kali, bisa kacau, apapun alasannya).
Aku segera ke resepsionis dan ketemu sama Mbak Mxx (dia memberikan senyum dan tanya: kapan sama saya?) yang tadi “kerja” di kamar sebelahku dengan tamunya, gila, mau tahu ujud tamunya yang mengeluarkan bunyi “pak” berkali-kali, pakai kaca mata plus tebal, dengan rambut putih semua agak sedikit botak (AGUS = Agak GUndul Sedikit tapi juga Anak Gajah Umur Setahun alias besar bukan gendut, tolong dibedakan), kalau mau iseng sih aku mau nanya jamu-nya apa Mbah?, Kita sama-sama bayar dan keluar tanpa bicara, aku ke old beatles, dia ke old tiger (pas deh sama orangnya) tapi aku salut.
Sekarang aku ngekost di Jakarta karena aku asal Bandung dan kuliah di Jakarta, perkenalkan namaku Lia dimana saat itu aku ngekost di daerah Jakarta Selatan , kamarnya ada 10 dan semua penuh sebagian besar semuanya wanita dan aada yang berkuliah dan bekerja aku cukup beruntung karena keluargaku dari orang yang berkecukupan.
Satu hal yang membedakan aku dengan wanita-wanita normal lainnya adalah sejak kecil aku tidak pernah tertarik pada pria. Sebenarnya banyak pria yang suka denganku sejak aku masih SMU. Teman-temanku juga banyak yang heran mengapa aku belum punya pacar juga, karena menurut mereka aku cantik.
Aku selalu bilang kalau belum ada yang kusuka dan aku belum mau cepat-cepat pacaran. Ada juga yang pernah bercanda dan bilang kalau mungkin aku seorang lesbian. Sebenarnya temanku itu betul, tapi aku tidak berani mengakuinya.
Terus terang aku malu sekali bila ada yang tahu kalau aku seorang lesbian. Orangtuaku juga pasti marah besar dan kecewa bila tahu keadaanku yang sebenarnya. Apalagi mereka juga tergolong sangat religius dan aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Bandung.
Baru sejak aku kuliah dan pindah ke Jakarta aku dapat menyalurkan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kupendam dan kadang sangat menyiksa itu.
Waktu di SMU aku pernah punya teman dekat wanita. Kami sering pergi berdua dan aku suka sekali sama dia. Tapi sampai hari ini pun perasaan itu tidak pernah kuutarakan kepadanya karena aku tahzu dia bukan seorang lesbian sepertiku dan aku tidak mau merusak persahabatanku dengannya.
Pengalaman pertamaku dengan wanita dimulai sekitar satu tahun lalu. Di tempat kostku ada seseorang yang kebetulan juga kuliah di kampus yang sama denganku walaupun dia beda fakultas, sebut saja namanya April.
April tidak punya kendaraan, jadi dia sering ikut mobilku ke kampus. Kami juga sering pergi ke mall atau nonton bersama, sehingga dalam waktu yang singkat hubungan kami menjadi cukup dekat.
April anaknya sangat cantik (dia sekali-sekali melakukan pemotretan sebagai model dan pernah menjadi cover girl di salah satu majalah remaja), kulitnya putih mulus dan badannya juga tinggi langsing.
Sebenarnya sejak dari awal aku kenal dia aku sudah suka dia, tapi sekali lagi, perasaan itu kusimpan dalam-dalam karena aku tidak tahu apakah dia juga seperti aku atau seperti gadis normal lainnya. Yang kutahu dia belum pernah punya pacar cowok juga.
Di malam hari kami sering main ke kamar masing-masing untuk ngobrol atau nonton film. Kamar April juga ada kamar mandinya dan biasanya dia hanya melilitkan handuk setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian di depanku.
Mungkin karena aku wanita juga, jadi dia tidak malu-malu, pikirku. Di kamar biasanya April hanya mengenakan baju kaos longgar tanpa BH atau celana dalam lagi. Aku sering mencuri-curi pandang ke kemaluannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat. Hampir seluruh badannya ditumbuhi bulu-bulu halus dan ini menambah keseksian dia.
Setelah beberapa bulan kami dekat, aku masih belum tahu kalau dia juga seorang lesbian sepertiku. Aku baru tahu setelah dia sendiri mengaku kepadaku. Kejadiannya sekitar 7-8 bulan yang lalu. Waktu itu aku sedang baca majalah di kamar dan April main ke kamarku, katanya mau nonton VCD di kamarku.
Sambil dia nonton, aku pergi mandi dan waktu aku selesai mandi aku sengaja keluar tanpa mengenakan apa-apa. Hal ini tidak pernah kulakukan sebelumnya karena sebenarnya aku cenderung pemalu dan tidak biasa memamerkan tubuh telanjangku ke orang lain. Aku hanya mau melihat reaksi April saja kalau melihat aku dalam keadaan telanjang.
Begitu aku keluar kamar mandi, dia cukup kaget melihatku. Matanya terus memandangi tubuhku dari atas ke bawah dan dia berkomentar kalau badanku seksi dan dia suka buah dadaku yang menurutnya walaupun tidak begitu besar tapi kelihatan kencang.
Tidak tahu kenapa, saat itu aku tidak merasa malu walaupun April terus memandangku, dan malah aku sengaja berlama-lama mengeringkan rambutku sambil menghadap ke arahnya.
Setelah itu aku mengenakan baju tidur putih yang bahannya cukup tipis tanpa mengenakan apa-apa lagi seperti yang biasa dilakukan April.
Aku duduk bersila di depannya dan kami mulai mengobrol seperti biasanya. Karena posisi dudukku dan baju tidurku yang cukup pendek, April dapat melihat kemaluanku dengan jelas, dan kuperhatikan dia beberapa kali melihat ke arah situ.
Pembicaraan kami pun berlanjut dan April menanyakan aku apakah aku pernah pacaran dengan wanita, karena dia heran kenapa sampai saat ini aku belum pernah punya pacar cowok. Aku bilang belum dan aku tidak melanjutkan jawabanku lagi.
Hal yang sama kutanyakan ke April dan jawabannya sungguh di luar dugaanku. April mengaku kalau sebenarnya dia adalah seorang lesbian dan dia pernah punya pacar wanita sewaktu di SMU. Terus terang, pernyataan itu membuat hatiku berbunga-bunga karena dia adalah wanita pertama yang kusuka dan kebetulan juga seorang lesbian.
Aku beranikan untuk berterus terang ke April kalau aku juga seperti dia dan bahwa sudah lama aku memendam perasaan padanya.
April tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga punya perasaan yang sama, tapi juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku sebelum dia yakin kalau aku juga suka sama dia. April kemudian merebahkan kepalanya di pangkuanku.
Sambil membelai rambutnya, kami terus ngobrol dan menyesalkan kenapa selama ini masing-masing selalu berpura-pura dan tidak berani berterus terang.
Aku bilang kalau aku takut dia malah menjauhiku kalau tahu aku seorang lesbian, karena sampai hari itu pun aku juga tidak tahu kalau April seperti aku juga.
Beberapa saat kemudian April mengajakku naik ke ranjang. Kami berciuman lama sekali, dan itulah pengalaman pertamaku berciuman dengan seseorang.
April kelihatan sudah cukup ahli dan tangannya mulai turun dan memegang buah dadaku. Aku sudah mulai terangsang dan aku minta dia untuk melepaskan baju tidurku.
Sambil berdiri, April melepaskan baju kaos yang dikenakannya, tetapi masih mengenakan celana dalamnya. Kemudian dia menarik baju tidurku ke atas sehingga aku tidur telentang di hadapannya tanpa mengenakan apa-apa lagi.
April kemudian mulai menciumi buah dadaku dan menjilati kedua putingku. Aku sudah sangat terangsang dan kemaluanku mulai basah.
Ciuman April mulai turun dan dia kemudian membuka kedua kakiku lebar-lebar. Rambut kemaluanku disibakkan dan April mulai menjilati klitorisku. Aku terus mengerang sambil memejamkan mata.
Hanya dalam selang waktu beberapa menit aku menikmati ciuman pertamaku, sentuhan seorang wanita dan sekarang pertama kalinya juga seseorang menjilati kemaluanku.
April terus memainkan lidahnya di kemaluanku dari atas ke bawah dan beberapa kali menghisap klitorisku seperti menghisap sedotan.
Aku orgasme beberapa kali dan sepertinya April tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk bernapas dan terus memainkan lidahnya dan menjilatiku dengan semakin bernafsu.

Setelah puas menjilatiku, dia memintaku untuk melakukan hal yang sama kepadanya. Aku mulai dengan menjilati buah dadanya yang lumayan besar dan putingnya yang berwarna merah kecoklatan.
Putingnya juga besar dan sepertinya sensitif sekali, karena April langsung mendesah-desah dengan keras begitu aku menjilati putingnya. April memintaku untuk menjilati kemaluannya, tapi aku masih belum puas bermain-main dengan putingnya yang seksi itu.

Jilatanku terus turun sampai ke kemaluannya. Celana dalamnya belum kulepaskan, dan di sebelah kiri kanan celananya terlihat rambut kemaluannya yang lebat. Aku mulai dengan menjilati sebelah kiri dan kanan selangkangannya.
April terus mendesah dan membuka kakinya lebih lebar lagi. Dia memintaku untuk melepaskan celananya, dan sambil pantatnya diangkat sedikit, kulepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, dan terlihatlah dengan jelas kemaluannya.

Kulanjutkan dengan menjilati kemaluannya, matanya dipejamkan dan kedua tangannya ditaruh di atas kepalaku sambil sedikit menekan-nekan dan mengarahkan jilatanku ke klitorisnya. Ternyata menjilati kemaluan wanita sangat nikmat, lebih dari yang selama ini kubayangkan.
Aku membuka bibir kemaluan April dan kujilati bagian dalamnya yang berwarna kemerahan. April sudah sangat basah dan semakin keras mengerang.
Kemudian April memintaku untuk bangun dan melakukan posisi 69 dengan tubuhku berada di atas tubuhnya.

Kami saling menjilati kemaluan satu sama lain sampai akhirnya kami beberapa kali orgasme. Setelah lelah, kami berciuman kembali dan tidur berpelukan sepanjang malam. Aku benar-benar menikmati pengalaman pertamaku ini, apalagi dengan orang secantik dan selembut April.
Setelah malam itu, kami sering bercinta. Kadang-kadang aku menginap di kamarnya atau dia di kamarku. Memang kami tidak berani untuk tidur bersama setiap malam untuk menghindari omongan teman-teman kost lainnya.
Percintaan kami berakhir dua bulan yang lalu waktu April beserta keluarganya pindah ke Australia. Aku sangat kehilangan dirinya dan tidak tahu apakah aku akan mendapatkan orang seperti dirinya lagi.
Saat ini aku sangat kesepian dan kadang-kadang timbul keinginan untuk menceritakan keadaanku yang sebenarnya ke orang lain, mungkin saja dengan begini aku akan lebih mudah mendapatkan teman wanita.
Tapi sepertinya saat ini aku belum siap dan aku terlalu takut orangtuaku akan kecewa dan marah besar kalau mereka tahu satu-satunya anak wanitanya adalah seorang lesbian.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar